SINERGITAS POLRI DAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGANTISIPASI HOAX

SINERGITAS POLRI DAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGANTISIPASI HOAX

Oleh : Brigjen Pol. Drs. H Budi Setiyawan, MM

Stabilitas Keamanan Dan Ketertiban Masyarakat di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini mudah sekali terganggu oleh beredarnya HOAX atau berita bohong. Hal ini disebabkan saat ini masyarakat sebagai penerima berita bisa sekaligus berperan sebagai penerus atau bahkan produsen berita, padahal literasi (pemahaman) soal informasi sangat minim. Masyarakat mudah percaya dan memviralkan berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh yang up to date adalah gejolak keamanan di Papua yang pemicunya adalah sebaran HOAX dari seseorang yang menyebarkan berita telah terjadi perusakan/ penghinaan terhadap bendera merah putih di Asrama Mahasiswa di Surabaya yang kemudian memicu ungkapan rasisme dari pihak-pihak yang percaya berita tersebut.

Dilanjutkan kemudian informasi HOAX yang menyatakan ada ungkapan rasisme yang dilakukan guru di Wamena yang kemudian memicu kerusuhan di sana.

Efek merusak HOAX sedemikian kuat melemahkan NKRI sehingga memang ada pihak yang memanfaatkan lemahnya literasi pengelolaan informasi di Indonesia untuk menyerang dan menciptakan instabilitas kamtibmas melalui HOAX.

Sepaket dengan HOAX, ada yang namanya ujaran kebencian (hate speech). Ujaran-ujaran melalui forum-forum dan media sosial yang isinya hujatan, hinaan dan provokasi bersumber dari HOAX tadi. Masyarakat menjadi marah, takut dan gelisah sehingga mudah digerakkan untuk kepentingan pihak yang tidak bertanggungjawab.

Setelah orang menjadi benci akibat terpapar HOAX dan Hate Speech, dia akan menjadi intoleran menjadi rasis, menjadi radikalis, merasa benar sendiri, melihat orang yang tidak sepaham adalah lawan yang harus diserang atau dimusnahkan. Tidak lagi ada rasa damai dalam hatinya, kebencian terus menjadi penyakit yang membutakan mata kemanusiaan.

Akibatnya, mereka yang rasis dan intoleran akan menjadi radikalis. Melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak umum, menyerang orang lain, menyerang pemerintah dan melupakan kemanusiaan. Radikalis tedak segan menyerang aparat, membunuh orang lain, membakar aset negara, merusak fasilitas umum yang kemudian menghancurkan rasa aman dan tenteram, membunuh kemanusiaan.

Polisi tidak bisa bekerja sendiri dalam mencegah dan menangkal HOAX, sinergi dengan pemerintah daerah sangat penting dilakukan. Koordinasi yang baik dengan kesamaan pemahaman bahwa HOAX adalah musuh kita bersama akan menjadi kekuatan besar menangkal HOAX.

Strategi bersama yang bisa diterapkan secara teknis adalah :

1. Melakukan edukasi kepada ASN, TNI/Polri, Civitas Akademika, Pelajar Dan Masyarakat umum agar memahami pentingnya mengelola informasi dengan bertanggungjawab.
2. Bekerjasama dengan penyedia jasa internet, media massa dan platform media sosial agar bersama-sama mencegah dan menindak HOAX
3. Melakukan penindakan dan penegakkan hukum terhadap pelanggaran UU ITE.

Dari 3 strategi di atas, peran Pemda sangat strategis dalam mencegah penyebaran konten negatif termasuk HOAX dan melakukan pembatasan-pembatasan yang diperlukan berdasarkan Undang-Undang dengan tetap dalam kapasitas mengayomi masyarakat dan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

Media Group (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *